Oleh: 60nline | Februari 13, 2009

Pertanyaan Sederhana soal cinta-valentine day

Pertanyaan Sederhana

Ponselku berdering saat kami tengah bercumbu malam itu. Ah, sialan! Terkutuklah si pengganggu kesenangan orang! Aku nyaris membanting ponsel sampai kulihat caller id di layar: Cessa.

“D?”suara di seberang memulai. Aku bangkit dan berjalan ke balkon setelah memberi tanda pada Gina yang—nyaris telanjang dada—terduduk kecewa.

“Ada apa?” resonansi suaranya melahirkan simpatiku. Lalu kudengar sedikit isak tangis. “Kamu…?” aku merasakan ketidakberesan.

“Bisa ke sini—sekarang?”

Seperti yang kauperkirakan, aku langsung bertolak ke alamat yang, mungkin, sudah lebih dari seratus kali—aku tidak berlebihan—kudatangi. Sebuah rumah minimalis di kawasan Setiabudhi, satu-satunya yang ditumbuhi kemuning di halaman depannya.

Aku menemukannya di dalam kamar setelah perempuan paruh baya yang ramah mempersilakan aku yang datang dengan terengah-engah untuk masuk. Cessa menelungkup di atas tempat tidur dan punggungnya naik-turun. “Aku datang,” Cessa terdiam dan kurasa ia sedang mempersiapkan sesuatu sebelum menatapku. Aku duduk di tepi tempat tidur, menunggunya bangun dan mulai bercerita. Setidaknya ia perlu satu menit untuk menarik-ulur napasnya dan menormalkan detak jantungnya. Sementara itu kulihat kamarnya agak berantakan, sepertinya akibat gempa mini yang ia ciptakan. Bahkan poster Bond kesayangannya tampak miring dan harus kuluruskan.

“Mereka semua idiot!” ia berujar saat kucoba menemukan petunjuk dari ceceran benda-benda di lantai. “Rondo Allegro itu teknik gila yang berisiko! Satu-dua kali terpeleset ke nada siul atau bahkan menjerit sih wajar dan setara permainan sempurna dengan teknik standar. Iya kan?” ia bangkit menatapku—matanya sembap—menuntut jawaban.

“Eh, i-iya,” aku mengangguk dan mengamini ketidakpahamanku atas istilah yang baru saja ia katakan.

“Orang bodoh saja tahu!” hei, tunggu, apa maksudnya—aku? Sialan! “Oh, aku jadi skeptis pada D’Orchestra.” Kali ini aku mulai paham. D’Orchestra adalah nama grup orkestra berkaliber nasional dan internasional yang dalam waktu tak terduga merekrut anggota baru dan tidak main-main dalam prosesinya. Menjadi bagian dari mereka adalah impian para musisi, tanpa terkecuali Cessa yang sejak kecil berkarib dengan biola dan tergila-gila pada D’Orchestra. Binar wajahnya saat mendapat panggilan pertama dari pihak mereka masih hangat di kepalaku; seperti matahari musim panas. Waktu itu ia mentraktirku nonton dan makan. Dan janji untuk merayakan panggilan kedua sekitar dua hari yang lalu belum sempat ia lunasi karena hampir seluruh waktunya ia habiskan untuk latihan. “

Memangnya apa yang mereka lakukan padamu?” aku mencoba bertanya.

“Mereka merendahkan permainanku,” jawabnya putus asa. “Tadinya kupikir, akan ada nilai tambah karena aku bermain dengan teknik sulit itu. Tahu begitu—argh… Aku benci mereka semua! Aku benci diriku sendiri! Aku benci biolaku yang nggak bisa diajak komporomi!”

“Yang lainnya, mereka—para peserta audisi itu memakai teknik apa saja, memangnya?” ah, aku ini seperti orang yang akan mengerti saja kalau ia memberitahukan teknik-teknik lainnya. Untungnya ia tak menjawab—dan kemudian mengataiku bodoh, tolol dan sebagainya—dan kembali membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan.

“Sudahlah,” aku coba melipur. “Sebenarnya apa sih yang kamu tangisi? Memangnya kamu sudah resmi ditolak?” Ia menggeleng. “Nah, lantas apa? Simpan saja air matamu ini untuk penolakan yang sebenarnya.” Ia melemparkan bantal ke arahku sebelum menghujaniku dengan pukulan. Aku pura-pura kesakitan sebelum membiarkannya membuatku benar-benar kesakitan.

“Hei, sekali saja kamu perlakukan aku seperti biolamu!” aku memprotes dan ia lekas berbenah diri di kamar mandi untuk beberapa menit. Kemudian menarikku ke luar dan memaksaku menghidupkan mesin kendaraan. “Mau ke mana kita?”

***

Gerimis turun saat kami tiba di Food Fest yang beroperasi sejak sore hingga pagi nanti—setiap hari dalam sepekan yang spesial. Aku bingung malam apa itu; orang-orang bejubel sehingga kami harus berpuas diri hanya dengan gulali yang kira-kira seukuran rambut Edi Brokoli. Ada restoran seafood yang menyisakan beberapa kursi kosong dan hanya akan kami datangi seribu tahun lagi, saat semua makanan di darat dinyatakan beracun dan haram dikonsumsi. Kami sepakat anti makanan berinsang dan licin dan bersisik dan berbau amis dan makan, minum, pipis dan eek di sana (dalam air) sekaligus dan mencederai kerongkongan kami dengan tulang-duri dan membuat kami mengeluarkan seluruh isi perut. Biarpun kata orang semua itu sumber protein tertinggi.

“Jauh-jauh ke sini cuma buat mentraktir makan gu—”

“Aku ribut lagi dengan Jemmy,” Cessa berkata sedatar danau yang dalam dan berisi buaya dan ikan piranha. Aku tak melanjutkan pembahasanku tentang gulali yang rasanya terlalu manis hingga membuatku sedikit pusing. “Audisi-sialan-ku akan biasa saja kalau dia bisa sedikit beramah-tamah padaku sebelumnya, saat aku memberitahu dan memintanya mengantarku ke AACC. Dia bilang sedang kebanjiran klien menyebalkan dan bosnya memberi rambu-rambu warna kuning.

“Aku bisa paham, tapi dia tiba-tiba nyolot dan sepertinya itulah kesempatan baginya untuk meluapkan semua kekesalannya dan menjadikan aku sebagai sasarannya—seperti biasa. Dan seperti yang kuceritakan, audisiku sedikit—ah, andai kamu tahu, itu benar-benar sangat berantakan…” aku merasa ia akan menangis. Kulihat ia lekas-lekas menyumpal mulutnya dengan gulali berwarna merah jambu. Tetapi air matanya terlalu rindu pada gerimis saudaranya.

“Kenapa kamu nggak minta antar padaku?” aku mengemut permen kapas itu sedikit-sedikit.

“Kan katamu,” sesaat ia berhenti karena mengunyah, “jam lima kamu ada janji dengan Gina,” ia mendelik lalu menyusut air matanya yang masih sedikit.

Oh, ya. Alih-alih memenuhi permintaan baru, aku melupakan janji dengan Gina karena terlalu berkonsentrasi pada DVD-DVD baruku yang terlalu sayang rasanya jika tidak lekas diputar. Sampai pada saatnya tiba, aku ketiduran dan terbangun satu setengah jam melebihi waktu yang kujanjikan untuk pergi menemaninya mencari buku Manajemen yang harganya lebih murah beberapa ribu rupiah, di Palasari. “Hm, aku juga tadi sempat ribut dengan Gina.”

“Kenapa? Tumben-tumbenan. Atau, kamu bilang begitu cuma untuk memberi kesan bahwa kita senasib-seperjuangan dan aku nggak perlu berlarut-larut karena aku bukan satu-satunya orang bermasalah di dunia?”

“Kuberi tahu, sensitifitas berlebihan itu nggak baik lho. Salah-salah, bisa bikin cowok rada alergi dan—ya jangan salahkan kami kalau kami juga jadi tertular.”

“Menurut kamu, Jemmy begitu gara-gara aku?”

Pembicaraan kami terhenti karena dering ponselku. Sebuah pesan singkat. Dari siapa lagi kalau bukan Gina. Ah, aku malas. Isinya pasti tak jauh dari sensitifitas berlebihannya. Kecurigaannya. Kuharap ia tidak benar-benar menelpon rumah sakit dan menanyakan apakah pasien DBD yang baru masuk adalah kerabatku, seperti yang kukatakan padanya sebelum menemui Cessa. Tapi aku yakin, ini tak akan berlangsung lama; sama halnya dengan kemarahannya saat batal ke Palasari sore tadi. Bahkan kau pun tahu, kami masih bisa bercumbu.

“SMS dari Gina ya?”

Aku mengangkat bahu dan mengecup-ngecup gulali sambil sedikit menjilatinya setelah menyelipkan ponselku di saku celana tanpa membuka SMS yang baru masuk. Pembicaraan kami pun kembali terhambat akibat sedikit gangguan sepasang muda-mudi yang ikut berteduh di samping kami, dan kudengar mereka ribut membicarakan kejadian sebelum mereka sampai yang sepertinya hanya cukup menarik untuk mereka berdua. Aku menatap Cessa yang ternyata juga sedang memerhatikan pasangan itu. Kami tersenyum diam-diam. Terlebih saat kami tahu bahwa si perempuan berbisik pada pacarnya yang bertubuh lebih pendek darinya setelah melihat gulali-gulali kami. Dan pacarnya kemudian agak berteriak memanggil penjual gulali.

“Oh, jadi kalian memang benar-benar lagi marahan?” Cessa melanjutkan.

”Syukurlah. Jadi, malam ini paling nggak, ada dua orang yang sedang nggak keruan. Tapi,” ia lekas mengimbuhkan, seperti takut terpotong olehku, “ah, kamu pasti bisa nge-handle-nya.” Ia kemudian mencubit gulaliku yang masih berukuran lebih besar dari miliknya, lalu mengemutnya. “Kamu kan beda dari kebanyakan cowok di dunia. Nggak kayak cowokku… Huh!”

“Beda gimana?” aku menawarkan gulaliku padanya dan ia meraihnya sambil tersenyum riang.

“Ya beda aja,” ujarnya tak acuh sambil menyatukan kedua gulali kami seperti anak kecil. “Kamu tuh baik, lembut, bijaksana, hangat, perhatian… dan nggak pernah marah. Kalaupun marah nggak tahan lama.”

“Siapa bilang? Coba kamu tanya Gina apa semua itu benar,” faktanya memang tidak sesederhana yang ia pahami. Nanti sajalah kuceritakan padanya, jika saatnya tepat. Cessa tampak sedang ingin didengar dan bukannya mendengar.

“Masa iya sih kamu malah lebih baik dan care ke sahabat kamu dibanding pacar kamu sendiri?” Gerimis reda, lalu Cessa bangkit dan lekas berlari ke warung batagor yang tak jauh dari kami dan tampak ada kursi kosong yang baru ditinggalkan pengunjungnya.

Beberapa detik aku terdiam, tersengat kata-katanya barusan.

“D! Sini, cepat!” ia melambai dari arah sana. Dan aku menghampirinya dengan kesadaran bahwa ia hanya sahabatku dan aku sahabatnya, dan sebuah pertanyaan sederhana yang selalu bergema: kenapa kami tidak pacaran saja agar segalanya terasa jauh lebih mudah?***

Iklan

Responses

  1. waw…muanteb bos
    http://engeldvh.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: