Oleh: 60nline | Februari 13, 2009

Pasar Baru, Cinta Lama -valentine story

Pasar Baru, Cinta Lama (part 1)

Aku melihatnya di sana. Selintas, tetapi keyakinanku berani membunuh waktu dan dosis minimalis kejelasan dalam hiruk pikuk keramaian. Itu dia!

“Yang mana?” tanya Cessa menelantarkan kembara singkat pikiranku seketika. Itu, aku membatin, perempuan yang berdiri empat blok dari sini, yang tampak sedang melayani para pengunjungnya. “Yang merah marun atau oranye terang?” mataku langsung dihadapkan pada dua setel batik terusan untuk perempuan. Oh, Cessa bertanya padaku soal hal yang lain.

Apakah dia selalu di sana? Aku kembali membatin.

Melihatku kebingungan seperti orang baru terjaga dari mimpi bertemu seseorang yang sudah lama absen dari ingatan–dan ternyata masih cukup penting dipikirkan setelah beberapa detik kembali eksis, atau justru melihat hantu versi paling menyeramkan; Cessa membeliak dan menggerak-gerakan telapak tangannya dengan format da-dah yang biasa dilakukan saat hendak berpisah. “Halo, D, kamu masih di Bumi?

” Mengerjap, aku pun bersikap bahwa semuanya baik-baik saja. Aku enggan ia tahu apa yang tengah kupikirkan. “Oh, ya. Eh, aku hanya sedang mengingat-ingat apakah motorku benar-benar dikunci ganda…” dan kenyataannya aku memang agak mencemaskannya, “yah, begitulah…” hei, aku salah. Di mana sisi baiknya?

Efeknya, Cessa mengomel tentang sifat pelupaku yang menurutnya bisa merusak karier kesejarahan hidupku saat ini dan kelak. Aku sudah terbiasa dengan hal itu, dan bagiku ia mesin alarm yang menjerit-jerit pada waktunya setelah kusetel dengan enggan. Ia sangat membantu sekaligus menjengkelkan. Aku harus berpura-pura benar yakin mulai mengingat untuk menghentikannya.

Akhirnya, setelah hampir dua jam mengitari setiap blok konter busana di lantai tiga, dan berkutat dengan batik-batik yang nyaris itu-itu juga, dan menyaksikan negosiasi tersengit antara penjual dan pembeli yang masing-masing ogah rugi, dan telingaku mau pepat dengan pertanyaan pilihan yang sulit kujawab karena keterbatasan mataku dalam menilai subjektifitas selera berpakaian, dan hal-hal menjemukan sejenisnya; Cessa memutuskan untuk membeli yang oranye terang dengan motif batik minimalis, hanya karena harganya lebih murah lima ribu rupiah dibanding yang lainnya.

“Kusarankan, D, carilah perempuan cermat sepertiku untuk pendamping hidupmu kelak!” katanya sambil terbahak saat kami tiba di parkiran usai mengisi perut yang keroncongan dengan semangkok bakso ceker dan teh botol. “Prinsip Ekonomi, D, ingat! Dengan modal minimalis dapatkan hasil yang maksimalis. Hahaha…” Cessa memarekan kantong belanjaannya dengan bangga.

Aku mencibir, “Sama saja. Orang uang sisanya kamu pakai buat hal-hal nggak penting model beli-beli pernik asesoris yang—aku berani jamin semua itu cuma akan berakhir di ‘kotak perhiasan’-mu, sampai main-main di Time Zone kayak anak kecil!”

“Itu kan ektras, ibaratnya. Reward atas keberhasilanku belanja hemat. Aku berhasil membeli satu setel batik dengan harga grosir dan berkualitas! Sesuatu yang mustahil aku dapat kalau aku manut anjuran teman-temanku untuk belanja batik di mal apalagi butik. Oh, syukurlah kami nggak sepakat untuk memakai batik seragam dalam pagelaran orkestra minggu depan…” sambil mendengarkan Cessa, aku mengedarkan pandangan mencari sesuatu.

“Si mulut nyinyir itu rupanya sedang not-in-the-mood soal keseragaman pakaian,” kudengar Cessa terus mendumel. “Aku sih nggak masalah kalau acaranya berkaliber besar dan disaksikan orang-orang yang benar-benar penting. Ini cuma acara kampus biasa, dan bagiku outlook selalu nomor dua. Dan, lebih-lebih aku masih be-te soal kejadian D’Orchestra. Argh… mestinya aku rehat dulu dan memetikemaskan biolaku. Tapi, kamu tahu kan, D, sehampa apa hidupku tanpa hal itu?”

“Eh, i-iya…

” aku mulai berkeringat dingin.

“Kenapa, D?”

“Motorku… …raib.”

***

Aku sedang di kantor polisi setempat untuk melaporkan kehilangan kendaraan beroda dua berpelat nomor sekian sekian—oh, bahkan aku sendiri lupa nomornya. Dan bukannya mendapatkan simpati, aku justru akan disemprot caci-maki atas keteledoranku. Lalu, mereka malah mempermasalahkan kerusakan sel-sel pengingat di otakku ketimbang bertindak cepat menjegal si maling memotong puncak tumpeng kemenangannya. Tapi, syukurlah semua itu hanya siluet yang baru saja kuciptakan dalam kepalaku.Sebenarnya, mana yang lebih penting: menjaga memori atau menciptakan imaji?

Kami berdua tertawa lega setelah memastikan bahwa motorku baik-baik saja dan masih setia menanti tungganganku di tempatnya. Lagi-lagi Cessa menjerit-jerit seperti alarm rusak, “Sektor L, bukan I, D! Sampai Mozart membongkar kuburannya sendiri pun motormu nggak mungkin jalan sendiri nyamperin pemiliknya!

”Sebenarnya, ini lebih ke masalah kemiripan huruf L dan I yang terpampang di papan, aku berkilah. Namun Cessa bersikeras kedua huruf itu berbeda, dan menurutnya, mestinya aku ingat di mana aku meninggalkan motorku tanpa perlu mempermasalahkan abjad.

Yah, yah, baiklah, kuakui aku memang pelupa.

Tetapi tidak untuk yang satu itu. Dia. Meski selama tujuh tahun ini aku tidak lagi setiap hari mengingat dan memikirkannya. Meski beberapa saat yang lalu, kulihat ada hal yang berubah darinya. Aku yakin seribu persen perempuan yang kulihat tadi itu adalah dia. Benar-benar dia! Dia! D-I-A. Aku tidak pernah lupa.

Butuh ribuan bahkan jutaan tahun bagi makhluk hidup untuk berevolusi. Tujuh tahun tentu saja hanya nol koma sejuta nol sekian yang tak mengubah bilangan menjadi lebih besar atau kecil; tak mengubah wujud manusia melebihi bentuk yang seharusnya. Tak perlu kukatakan tubuhnya bertambah tinggi beberapa senti dan pinggang juga pinggulnya sedikit melebar namun proporsional. Satu-satunya perubahan yang kumaksudkan sebagai ‘perubahan’ adalah…

…kini dia berjilbab.

Aku masih menyimpan wajah-cantik-berbingkai-rambut-lurus-kemerahan-tujuh-tahun-yang-lalu-nya dalam Premium Glossy 4R yang sayangnya lupa kusimpan di mana. Mungkin di dalam laci, di lemari, di bawah tumpukan pakaian dalam, di antara lipatan halaman buku-buku tebal atau majalah-majalah bertabur perempuan berpose sensual… atau…

“Ma, dus besar yang isinya barang-barang D waktu SMP masih ada di gudang?”

Tiga detik menunggu anggukan Mama rasanya seperti tiga tahun menantikan kelulusan masa SMA yang menjemukan sekaligus mendebarkan. Ah, syukurlah. Mama adalah aku dalam versi positif yang ia sebut sebagai ‘apik’. Dalam bahasa Mama, apik bisa berarati cermat, teliti, terorganisir… dan intinya adalah antisipasi berjangka. Ia tahu anaknya terkadang melupakan hal-hal sepele demi mempertahankan ingatan yang jauh lebih penting. Dan ia tahu melebihi yang aku tahu. Tetapi aku tahu ada hal-hal yang tidak ia tahu. Tidak semua aspek dalam hidupku ia harus tahu, dan syukurnya ia tahu itu.

Mama hanya tahu dus besar itu berisi dokumen-dokumen sekolahku masa SMP. Dari mulai catatan harian, ulangan periodik, tes semesteran, buku cetak, LKS dan tetek bengek atribut sekolah lainnya, kecuali seragam putihku yang dipenuhi coretan tanda tangan teman-temanku yang malangnya lenyap karena kecerobohan Bik Ipah, pembantu rumah kami. Aku tak tahu harus marah atau tertawa atau marah sambil tertawa kemudian marah dan terus ngamuk sampai terkentut-kentut saat tahu perempuan hampir setengah abad itu mencuci seragamku hingga luntur. Waktu itu aku beraksi mogok komunikasi dengan Bik Ipah yang turut andil membesarkanku, hingga akhirnya Mama menegurku, menuntut pengamalan pelajaran Pancasilaku.

Hei, ternyata aku tidak payah-payah amat dalam urusan ingat-mengingat!

Dus besar yang teronggok di pojok, pada tumpukan dus paling bawah itu akan merangsang ingatanku hingga otakku ereksi. Gudang menitipkan debu padanya yang langsung menghambur kala kutiup dan mendadak aku bersin-bersin seperti orang alergi serbuk asing.

Semua ini susah payah kulakukan karena dia…

…Riana.Gadis cantik itu memang panjang tangan alias gemar mencuri, terutama hati laki-laki. Dia juga berbisa; tatapannya melumpuhkan dan senyumannya meluluhkan. Aku nyaris ambruk saat jam istirahat hari itu dia berjalan mendekati tempat dudukku di kantin dan jantungku rasanya mau bertukar tempat dengan lambung. Padahal dia cuma lewat dan berkumpul dengan teman satu gengnya yang mendominasi meja di belakangku.

Aku hanyalah bocah hijau dan sementah mangga yang terlalu masam untuk dijadikan hidangan pencuci mulut. Sementara aku menyadari bijiku mulai bertunas dan gejolaknya seolah tak sabar untuk lekas terlesatkan menantang dunia, menembus cakrawala. Aku jatuh cinta padanya.

“Dia itu kakak kelas kita, D!” ujar seorang temanku, seolah sedang memberitahu aku-yang-mendadak-amnesia tentang fakta kecil mengenai dirinya yang adalah teman sebangkuku. “Kamu nggak bener-bener mengidap oediphus kompleks, kan?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: