Oleh: 60nline | Februari 13, 2009

Pasar Baru, Cinta Lama (part 2) -valentine day

Pasar Baru, Cinta Lama (part 2)

“Apakah itu?” tanyaku mengambang di udara bersama sketsa Riana.

Temanku menjelaskan istilah itu sebagai semacam sindrom yang melanda laki-laki muda yang jatuh cinta pada perempuan yang lebih tua. Dan ekspresinya saat itu seolah menyiratkan bahwa oedipus kompleks sekasus dengan homoseksualitas. Aku bergidik ngeri, tapi untungnya beberapa hari kemudian temanku yang serbatahu (untuk ukuran anak kelas satu SMP) itu membawa kabar lain.

“Koreksi, koreksi. Cewek kakakku lima tahun lebih tua, dan mereka damai sejahtera. Dan menurut kakakku, itu normal-normal saja.”

Sejenak aku tertawa sambil memandangi artikel-artikel mengenai oediphus kompleks yang waktu itu dibawakan temanku dan hingga kini masih tersimpan rapi di antara bundel kertas ujianku. Well, memang tidak ada yang salah dengan ‘berondong instant’ yang menyukai ‘sup jagung matang’. Harap dicatat!

Kemudian aku dikejutkan hasil ulanganku yang bernilai 59. Matematika. Oh, aku ingat, waktu itu mungkin bisa dibilang aku sedang kasmaran dan persetan soal pelajaran. Kuberi tahu, Riana membalas cintaku! Temanku yang serbatahu itu menjadi supporter utamaku, dan ia juga yang memberikanku jurus terjitu. Aku lupa metode apa yang diajarkannya dan hanya kupelajari dengan sistem kebut semalam saja. Yang jelas, inti pelajarannya adalah tentang kepercayaan diri. Tetapi hati-hati, ia memperingatkan, jika terlalu percaya diri, perempuan bisa terbirit-birit lari.

Tampang adalah faktor pendukung yang keampuhannya tidak bisa dipungkiri. Ehm, meski agak sedikit ‘tablo’ alias tampang bloon, menurut pengakuan beberapa teman perempuanku, aku terkategori cowok bertampang charming, cakep, keren, kece dan sebagainya.

“Kamu tuh mirip banget sama keponakanku. So cute,” aku Riana padaku suatu hari, saat kami jalan bersama. “Oom dan tanteku pindah ke luar kota dan membawanya serta. Aku tentu merasa sangat kehilangan. Tapi sejak ada kamu…” dia memelukku, kemudian mencebil pipiku. Ah, ini dia yang kukesalkan darinya. Sebenarnya, dia menganggap aku ini pacarnya atau keponakannya yang masih berumur tiga setengah tahun itu?

Yes! Aku berhasil menemukan fotonya! Dia memang benar-benar luar biasa.

***

Aku melihatnya lagi! Dia, Riana! Benar-benar Riana! Matanya masih menjadi harmonisasi hitam-putih terindah sedunia yang pernah kujumpai. Dia panjang tangan alias gemar mencuri, terutama hati laki-laki. Dan dia makin berbisa dengan tatapan yang tidak hanya melumpuhkan tetapi juga mematikan dan senyumnya menghancurleburkan. Apakah karena kini dia berjilbab? Konon, kecantikan perempuan berjilbab berkali lipat dan berdaya pikat lebih besar dari mereka pengumbar aurat.

Dan dia membalas tatapanku.Dia yang berdiri di antara hiruk-pikuk orang-orang di Pasar Baru berjalan perlahan namun pasti ke arahku.

Tetapi…

…matanya yang masih indah dengan lansekap hitam-putih terbaik itu memancarkan bahasa yang tak terduga. Sorot tajam sarat keinginan. Sepasang mata yang pernah menghunus-hunus jantungku saat pertama kali dia menatapku dengan cara yang ‘berbeda’. Mata yang bermantra: wahai lelaki, akulah bidadari tercantik diantara populasi bidadari di dunia dan di surga… butalah mata lahir dan batinmu jika engkau berpaling pada yang lain… matilah berahimu ketika engkau bersetubuh dengan perempuan lain.

…bibirnya tidak hanya tersenyum ramah, melainkan tersungging nakal dengan gerakan dan tegangan terlatih yang tak perlu dipelajari kecuali naluri murni. Bibir yang pernah berbisik lirih meremangkan rambut tengkukku dengan mantra yang sama diucapkan sang mata hingga aku kegelian dan berusaha mencari pegangan untuk menghimpun kekuatan. Bibir yang pernah mengajariku bagaimana caranya mengecup, mencumbu, melumat, memagut, menghisap… Bibir yang pernah memberikan sensasi terdahsyat.

Riana membuka jilbabnya. Dan wajah itu kembali ke tujuh tahun lalu. Persis wajah-cantik-berbingkai-rambut-lurus-kemerahan-nya dalam Premium Glossy 4R itu. Wajah kakak kelas yang teramat memikat. Salur-salur rambutnya memancarkan kemilau gairah yang hebat. Ia mengibas, wangi meranggas, dan sesaat ia berubah menjadi perempuan matang yang tahu segala hal. Perempuan yang memahami struktur anatomi melebihi master biologi.

Riana melepas apa yang ada pada dirinya, tanpa terkecuali. Perlahan namun pasti. Seperti yang pernah dia lakukan di rumahnya saat kami hanya berdua sepulang sekolah. Dia bilang ingin mengajariku sesuatu. Pelajaran mahal yang tak mungkin kudapatkan di luar dan di mana pun. Bekal untukku agar menjadi lelaki yang tidak mempermalukan dirinya sendiri. Agar menjadi lelaki yang tidak mencintai dan berberahi pada bayangannya sendiri. Agar menjadi lelaki hebat yang digilai banyak perempuan; lelaki sejati.

Dan kemudian…

…aku merasakan sesuatu mendesir di antara selangkangan, menyeruak minta dikeluarkan. Mengerang, aku berupaya menahan sekuat tenaga. Mempertahankan rasa yang semakin membuatku melayang gila. Mempertahankan sesuatu yang tak semestinya kukeluarkan di luar kehangatan rumahnya.

Tetapi…

…a a a r r r g g g h h h

… Aku terjaga dan sepertinya di sini banjir meski hujan tidak turun.

***

Oh, aku sungguh berdosa. Bagaimana bisa aku bermimpi gila dengan Riana yang kini telah berhijab?

Tetapi, betapapun mimpi di luar kendali manusia meski materinya terkomposisi atas fragmen-fragmen yang tersimpan di dalam folder memori. Mimpi mampu menguar kesadaran dan mengungkap ingatan yang tak terdefinisikan otak kita dalam keadaan terjaga dan sadar.

Terkadang aku mendambakan ingatan semisal, di mana terakhir kali aku meletakkan sesuatu hingga aku melupakannya, ketika kemudian aku membutuhkannya kembali. Saat itu biasanya otakku menyembunyikannya serahasia mungkin sampai aku benar-benar pusing. Namun di lain waktu, aku tak menghendaki suatu kenangan kembali datang karena tak cukup pantas atau terlalu menyakitkan atau memalukan untuk diingat berulang kali. Dan anehnya, untuk yang satu itu, seringnya otakku berbuat nakal dan tak sungkan memamerkannya. Dan aku bisa apa, selain menerimanya?

Semuanya kini telah mencair dan hadir. Ingatan itu. Kenangan itu. Sejak dulu, cinta tak pernah lebih dari sekadar barang rongsokan yang menggiurkan ketika nafsu memonopoli. Ketika cinta sebatas percumbuan dan persetubuhan. Ketika cinta cuma sebuah alat pelampiasan atas rasa penasaran. Ketika cinta dianggap sebagai paspor untuk legalitas seksualitas.

Sejak kejadian hari itu, Riana tak pernah lagi menghubungiku dan putuslah komunikasi di antara kami. Awalnya aku tak mengerti dan sulit memahami. Aku tak henti bertanya-tanya sendiri: apakah Riana tidak menyukaiku karena aku tak pandai bercumbu, dan dia hanya menganggapku tak lebih dari boneka imut tempatnya berpeluk dan melampiaskan rasa kangennya pada keponakannya yang mirip denganku itu? Apakah Riana marah padaku karena saat itu aku bingung harus berbuat apa selain memandangi tubuh indahnya dengan tatapan penuh tanya yang saking terasa rumitnya hingga membuatku mimisan dan nyaris pingsan? Apakah Riana meninggalkanku karena aku tak bisa jadi lelaki hebat di matanya? Apakah Riana yang seharusnya sudah kelas satu SMA merasa menyesal telah berpacaran dengan anak tolol berbadan bongsor yang masih kelas satu SMP?

Gigiku bergemeletuk menahan gigil air junub di pagi buta. Aku tak sanggup melawan dingin, lebih-lebih menentang panas di neraka.

***

Aku terhimpit di antara rasa senang, penasaran, tak sabaran dan rasa-rasa lainnya yang sulit kujabarkan ketika siang itu, Cessa meneleponku, “D, batikku kegedean satu ukuran! Kurasa, si ibunya salah bungkus. Kira-kira, kamu mau nemenin aku…”

“Ya!” jawabku kilat penuh semangat. “Jadi, kapan kita kembali ke Pasar Baru untuk menukar batikmu?”

Dan, Riana, kita segera bertemu!

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: