Oleh: 60nline | Februari 13, 2009

antara horor dan humor

LARI

Di sudut kota yang terlihat sepi dan sunyi, seorang wanita sedang berlari – lari dengan tergesa – gesa. Jalan yang saat itu sedang basah karena hujan tak menghentikannya dalam memacu kecepatan. Entah apa yang membuatnya lari seperti itu.

Sesekali ia memandang ke arah belakang dengan wajahnya yang semakin pucat karena komplikasi takut dan tersendatnya sirkulasi udara menuju kepala. Nafasnya semakin lama semakin berat dan sakit, mungkin ini dikarenakan gadis itu jarang sekali melakukan olah raga.

Tanpa disengaja kaki kanannya menendang tong sampah hingga membuatnya tersungkur ke jalan yang basah. Kini kaos putih dan celana jeansnya tertutup dengan lumpur, gak sepatu kanannya patah. Langsung saja gadis itu membuang kedua sepatunya, itu lebih baik daripada ia terkejar. Begitulah menurutnya.

Untuk sesaat ia menggunakan saat jatuhnya untuk menghirup nafas yang banyak dan mengistirahatkan pompa jantungnya. Keringat peluh membasahi seluruh kaosnya tak ketinggalan mengalir di keningnya. Entah sudah berapa lama ia berlari dari kejarannya. Kejaran sesuatu yang membuatnya berlari bersusah payah seperti ini dan membuatnya sangat menderita.

Ia memandang ke arah dari mana ia berlari, belum terlihat sosok yang mengejarnya. Ia bernafas lega, mungkin ia sudah terlepas dari kejarannya. Gadis itu mulai bangkit dari jalan basah berlumpur sambil tersenyum.

Belum sedetik ia tersenyum lega, tiba – tiba terdengar suara nafas dan geraman mahluk yang mengejarnya sedari tadi dari arah tempatnya berlari. Dari lorong gang sempit itu terlihat kedua pasang cahaya hijau yang terang. Mahluk itu semakin mendekat dan sosoknya sedikit demi sedikit terlihat jelas. Gigi mahluk itu mencuat dari mulutnya dan terlihat sangat tajam. Sesekali air liar bening kental menetes dari celah mulutnya.

Gadis itu memutuskan kembali berlari. Tapi kemana? Di kota ini ia tak memiliki tujuan, bahkan ia berada di kota ini hanya sebagai kebetulan semata. Ia baru saja membeli DVD game Silent Hill 5 terbaru dari toko Game sebelum akhirnya ia bertemu dengan mahluk itu. Sungguh sial sekali dirinya hari ini. Mengapa ia harus mengalami kejadian yang menyeramkan ini.

Oh… Tuhan, mengapa diri-Mu memberi cobaan seperti ini…

Gadis itu berlari memasuki salah satu gang yang ada di hadapannya. Begitu ia melihat pintu belakang sebuah gedung yang terbuka, gadis itu langsung memutuskan untuk memasukinya. Begitu memasuki gedung ia bersender pada pintu belakang gedung. Nafasnya masih terengah – engah. Apakah mahluk itu masih mengejarnya? Gadis itu mengintip ke arah luar melalui kaca yang ada di tengah – tengah pintu. Betapa terkejutnya gadis itu begitu mengetahui mahluk masih berada di balik pintu itu, bahkan tangannya ditempelkan pada permukaan pintu dan sesekali mengeluarkan cakarnya yang terlihat sangat tajam. Gadis itu berjalan menuju pintu darurat yang menghubungkannya dengan gedung yang kini dimasukinya. Ia menarik kenop pintu dan mencoba membukanya.

Ya, Tuhan… Pintu ini terkunci…

Bagaimana aku melewati situasi seperti ini? Apakah ia kembali ke pintu belakang gedung dan menerobos keluar dan melewati mahluk itu? Atau ia menunggu hingga ada seseorang yang melewati pintu belakang ini? Cleaning Service mungkin. Entahlah, siapa saja yang membuka pintu akan menyelamatkan hidupnya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menunggu seseorang.

Ia berjalan ke ke sana – kemari untuk membunuh waktu, tapi sama sekali tak terlihat tanda – tanda kehadiran seseorang di gedung ini. Padahal ia sudah menunggu selama dua jam. Hingga akhirnya ia bersender pada pintu darurat dan merosot ke bawah. Mungkin karena tadi ia sangat panik hingga tak memperhatikan beberapa lembar kertas terselip di celah pintu, seluruh kertas itu berisikan kata – kata yang sama.

GEDUNG DITUTUP SEDANG DILAKUKAN RENOVASI MENYELURUH

Astaga, ternyata sedari tadi ia memberikan harapan yang kosong pada gedung ini. Dan satu – satunya yang harus dilakukannya adalah menerobos pintu belakang gedung. Gadis itu mengintip melalui kaca pintu, ternyata mahluk itu masih setia menunggu dirinya keluar.

Wajah gadis itu menjadi puvat kembali begitu melihat sosok mahluk yang sedang menunggunya di luar. Ia membalikan badannya dan memandang ke langit – langit, ia menutup matanya dan mencoba menerima tindakan yang akan dilakukannya sekarang. Begitu kedua kelopak matanya terbuka, kini pandangannya menjadi sangat mantap.

Ia berbalik ke arah pintu dan memandang ke arah luar. Entah kenapa setelah ia menenangkan diri, pikirannya menjadi jernih dan melihat ujung gang menuju jalan raya. Dan itu akan menyelamatkannya dari kejaran mahluk itu.

Tanpa ragu lagi aia membuaka pintu dan menghantamkannya pada mahluk yang mengejarnya.Tanpa membuang waktu, ia berlari sekuat tenaga hingga akhirnya ia berhasil menuju ujung gang dan tiba di pinggir jalan raya.

Seluruh orang yang sedang berlalu lalang melihat gadis itu dengan kebingungan. Karena penampilan gadis itu yang sangat berantakan dan penuh lumpur. Tapi entah kenapa gadis itu masih belum merasa aman.Tanpa buang waktu ia menghampiri seorang pemuda dan meminta pertolongan padanya.

“ Kamu kenapa?” Tanya pemuda itu kebingungan.

“ Tolong aku, ya! Ada yang mengejarku dari tadi.” Kata gadis itu dengan nada yang bergetar dan ketakutan.

“ Tapi apa?” Kata pemuda itu yang ikutan mearasa ngeri.

“ Seekor mahluk yang sedari tadi mengejarku.” Kata gadis itu. Langsung saja gadis itu menunjukan jarinya pada sepasang cahaya berwarna hijau yang semakin lama semakin mendekat. “ Mahluk itu yang mengejarku!” Pemuda yang ikut merasa ketakutan karena mendengar cerita dari gadis itu mulai ikut gemetaran melihat kedatangan mahluk itu. Semakin lama sosok mahluk itu semakin terlihat jelas terkena siraman cahaya lampu dari pertokoan dan jalan raya. Ternyata mahluk yang mengejar gadis itu adalah seekor anak anjing lucu berwarna cokelat. Anjing itu mendekati mereka berdua dengan menggoyang – goyangkan ekornya dengan gembira sambil mengeluarkan lidahnya keluar.

“ Anak anjing ini yang mengejarmu?” Tanya pemuda itu.

Gadis itu mengangguk.

“ Ya Tuhan, aku kira apa. Ternyata gara – gara anak anjing lucu ini??” Tanya pemuda kesal.

Pipi gadis itu merona merah tanda ia sangat malu, ia memutar – mutarkan kedua telunjuknya.

“ Ya maaf, namanya juga phobia…” Katanya sambil cengengesan.

*di kutip dari kemudian.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: